Hari itu Ocha dan Pipin pindah
ke rumah baru. Rumah itu dibangun ayahnya, yang berarti rumah pribadi keluarga.
Senang rasanya punya rumah sendiri,
setelah sekian lama tinggal di asrama.
Tapi ada juga sedihnya, karena di rumah baru ini sepi banget. Bayangkan, di
samping kanan dan belakang rumah berupa semak belukar yang rapat. Hutan,
tepatnya. Di samping kiri dan depan terbentang sawah yang sangat luas. Meskipun
jalan menuju rumah sudah beraspal, namun
tempat itu masihlah sangat sepi. Hanya beberapa rumah yang menjadi tetangga, itupun
lumayan jauh jaraknya.
Di
stasiun kereta di kota Palembang, aku memulai perjalanan kisahku ... begitu banyak calon penumpang yang sedang berbaris tertib
memberii tiket kereta, ya... temasuk aku yang ikut dalam barisan
terbelakang, kakiku angkat satu persatu secara bergantian, yang berarti aku
sudah mulai merasa lelah berdiri di barisan loket tiket kereta, maklumlah saat itu suasana sedang libur panjang, termasuk
aku yang saat itu pun dalam suasana cuti.
Apa yang harus aku lakukan? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing. Apabila masalahku ini berlarut-larut dan aku tidak segera menemukan
pemecahannya, aku khawatir akan berdampak buruk terhadap kondisi kesehatan dan
kegiatanku dalam masyarakat. Lebih-lebih terhadap dua permataku yang
manis-manis: Gita dan Ragil.
Tapi agar jelas, biarlah aku ceritakan lebih dahulu dari awal. Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga yang -katakanlah-- kecukupan. Aku
dianugerahi Tuhan wajah yang cukup cantik dan perawakan yang menawan. Sejak
kecil aku sudah menjadi "primadona" keluarga. Kedua orang tuaku pun,
meski tidak memanjakanku, sangat menyayangiku.