UNDANGAN dari Susan kuterima di kantor menjelang pukul tiga, ketika aku keluar
dari ruang rapat. Rencana menyeduh kopi untuk mengusir kantuk segera
terlupakan. Perhatianku tersita pada amplop yang didesain sangat bagus.
Saat kubuka sampul plastiknya, telepon di mejaku berdering. Aku mengangkat
telepon tanpa menghentikan upayaku mengeluarkan art-carton yang dicetak dengan
spot ultra violet pada tulisan "Bingkai".
"Selamat siang dengan Dudi, Auto Suryatama," sambutku automatically. "Ahai, tumben kamu ada di tempat!" Seru suara dari seberang.
"Maaf, siapakah ini?" "Susan! Kamu lupa suaraku? Padahal baru dua bulan yang lalu kita bertemu.
Tak hanya bertemu, karena sepanjang dua malam kita bersama-sama." Ada nada gemas yang merasuk
ke telingaku. "Sorry, aku telepon ke kantor. Hp-mu tidak aktif."
"Astaga!" Aku tertawa dan meminta maaf. Bukan tidak aktif, lebih
tepat: nomornya berbeda. "Aku baru saja menerima sebuah undangan, jadi
konsentrasiku bercabang. Tampaknya ini undangan darimu! Jadi rupanya kamu
serius dengan rencana itu?"
"Tentu! Kenapa tidak? Kamu pasti ingat cita-citaku sejak SMA. Sudah sejak
lama aku bermimpi bisa tinggal di Ubud. Tapi tidak mungkin aku terus-terusan
berlibur membuang uang di sana.
Jadi kuputuskan untuk mendapatkan kepuasan batin sekaligus finansial..."
"Aku harus bertepuk tangan untuk kegigihanmu. Hebat!" "Ini juga karena ada bara cinta yang terus-menerus membakar."
Aku terkesiap mendengarnya. "Cintamu, Dudi!" sambung Susan.
Entahlah: seharusnya aku melonjak gembira atau terkesiap waspada mendengar
ucapannya yang demikian mantap? Tentu agak mengherankan jika seorang gadis Solo
memekikkan kata itu, bukan membisikkan, yang mudah-mudahan tidak sedang antre
di depan kasir supermarket.
"Dudi, kenapa kamu diam saja?" "Oh, sorry! Sebenarnya aku mau melonjak-lonjak, tapi tentu salah tempat.
Di depan mejaku sudah ada yang menunggu, mau membicarakan pekerjaan..." "Oke, Sayang. Aku akan meneleponmu lagi nanti. After office hour,
ya!"
Gagang telepon masih di telinga, menunggu Susan memutuskan hubungan. Bahkan
setelah hubungan telepon terputus, seperti masih kudengar nada gembira Susan di
telinga. Rembes ke dalam hati. Aku menghela napas seperti keluar dari ruang
yang pengap, dan kusandarkan punggungku ke kursi yang lentur. Tak ada
siapa-siapa di depanku. Jadi, aku tadi berdusta. Maafkan aku, Susan. Ternyata
aku telah banyak berdusta. Tapi, percayalah, kasih sayangku kepadamu begitu
jujur. *** SEINGATKU tadi Lanfang minta dibawakan kue, karena malam ini sepupunya akan datang.
Sambil meluncur pulang aku merencanakan singgah di sebuah bakery. Ada toko kue langganan
sebenarnya, tapi di tengah perjalanan aku terpikat pada kerumunan yang
mengundang selera untuk mampir. Selintas kulihat, di kiri dan kanan tempat
ramai itu juga ada kafe dan kedai roti. Jadi tak terlampau salah jika aku
sejenak berhenti dan mencari tempat parkir. Untung Swift yang kukendarai bukan
tipe mobil besar, sehingga mudah mendapatkan tempat.
Rupanya sedang berlangsung seremoni pembukaan sebuah galeri, yang ditandai
dengan pameran karya para pelukis muda Surabaya.
Kulihat sepintas, ada Joko Pekik di ruang benderang itu: ikut berpameran atau
hanya diminta pidato? Entahlah! Yang terbayang olehku adalah peristiwa serupa,
yang akan berlangsung minggu depan di Ubud. Dan di tengah lingkaran para tamu,
kuangankan si anggun Susan, dengan rambut dibiarkan terurai, bak burung merak
yang tersenyum lebar memperkenalkan galerinya. Apa namanya tadi? Bingkai!
Aku turun dari mobil, melenggang masuk dalam kerumunan. Siapa pemilik galeri
ini? Kalau Lanfang tahu, tentu ingin juga "cuci mata" di sini,
apalagi dia sedang keranjingan mengapresiasi seni lukis, gara-gara pernah
diminta oleh majalah untuk menulis liputan pameran di Balai Pemuda. Waktu itu
dia mengeluh, karena tak tahu harus mulai dari mana untuk menilai lukisan.
"Aku iki isane nulis cerpen, lha kok dikongkon gawe resensi lukisan, yok
opo sih?!" Ya. Aku ini bisanya cuma menulis cerpen, kenapa disuruh membuat
apresiasi lukisan, bagaimana sih?!
Aku nyaris terpingkal melihat dia mencak-mencak. Tapi rasa ingin tahu dan
semangat belajarnya cukup tinggi, sehingga waktu itu, selang sehari dia bisa
bertemu dengan beberapa pelukis. Bahkan hari berikutnya dia berhasil membuat
janji dengan seorang kurator untuk berbincang-bincang. Seharusnya kini ia
berterima kasih kepada majalah wanita di Jakarta
yang pernah memintanya untuk melakukan itu. Karena sekarang pikirannya lebih
sensitif terhadap seni lukis dan grafis.
Sepuluh menit kuhabiskan waktu di galeri yang berinterior minimalis. Meskipun
tampaknya tidak perlu menunjukkan undangan, tapi aku tentu bukan tamu yang
dimaksud. Selanjutnya aku masuk ke kedai roti di sisi kanan, dan memenuhi
pesanan Lanfang.
Sepanjang sisa jalan pulang, yang kupikirkan adalah cara pergi ke Bali. Meskipun Surabaya tak terlampau jauh dari Bali, rencana ke sana
di luar tugas kantor tentu akan memancing keinginan Lanfang untuk ikut. Itu tak
boleh terjadi! Tidak mungkin mempertemukan dua perempuan yang kusayang itu
dalam satu ruang dan waktu. Bukan khawatir akan menjadi gagasan buruk sebuah
novel bagi Lanfang, tetapi pasti menyebabkan tiupan badai yang kemudian
merubuhkan perkawinan.
Jadi, mesti ada perjalanan dinas ke Bali!
Barangkali, agar tidak terlampau mencurigakan, isu itu harus kuembuskan ke
telinga Lanfang sejak dini. Nanti malam, sebelum bercinta. Dengan demikian,
tidak terkesan sebagai kepergian mendadak. Tapi... astaga, bukankah benak
perempuan sering dihuni oleh akal yang fantastik? Bisa jadi, karena waktunya
masih lama, Lanfang membongkar tabungan dan berinisiatif untuk ikut. Dengan
cara itu, biaya penginapannya gratis, bukan?
Keringat mengembun di keningku. Tiba-tiba pendingin udara dalam mobil terasa
tak sesejuk biasanya. Mungkin sebaiknya kusampaikan sehari menjelang
keberangkatan. Sambil pura-pura mengeluh: kenapa perusahaan tidak pernah
mempertimbangkan karyawan, seenaknya saja menugaskan keluar kota tanpa perencanaan yang matang. Aha, aku
tersenyum membayangkan reaksi Lanfang, yang akan menghibur dengan: "Ya
sudahlah, namanya juga tugas. Tentu ada hal yang bersifat urgent di sana." Seraya
mengelus pipiku. Dan aku akan memeluknya dengan manja seperti bayi.
Tapi tarikan pipiku berubah. Senyumku beralih rasa cemas. Bagaimana jika
Lanfang justru menyikapi dengan kalimat seperti ini: "Ya sudah, biar tidak
suntuk di sana,
aku ikut menemani. Malamnya kan
bisa jalan-jalan ke kafe di Legian atau Kuta."
Belokan terakhir menjelang tiba di rumah mendadak terasa tidak nyaman. Padahal
tak ada "polisi tidur" di situ. Tapi aku berharap jarak yang kutempuh
masih panjang dan perlu beberapa lampu merah. Agar sempat mengatur strategi
yang paling masuk akal. Namun pikiran itu tercerabut sewaktu telepon selularku
bergetar. Susan!
"Hai, aku lupa meneleponmu! Tadi ada kawan yang tanya ini-itu soal acara
di Ubud. Biar murah aku menggunakan event organizer milik teman SMP-ku."
"O, no problem. Kebetulan aku sudah di jalan raya." "Ya sudah, aku paling benci melihat orang mengemudi sambil telepon. Sampai
besok, ya. Mmmuah!"
Rasanya pipiku jadi basah oleh sentuhan bibirnya. Kuembuskan napas keras-keras
dan mengharap rasa nyaman masuk ke dalam hati. Pagar rumah sudah di depan mata.
Langit mulai gelap, lampu-lampu teras di kompleks perumahan sudah menyala. Dan
seperti biasa, pembantu segera menarik-geser gerbang besi yang warnanya sudah
mulai pudar. Aku memarkir mobil ke carport.
"Terima kasih." Dipeluknya aku, meskipun aroma tubuhku tak sesegar
tadi pagi. Lalu jemarinya membuka dasi dari leherku. Mudah-mudahan itu bukan
caranya mencari harum parfum lain yang mungkin menempel di bajuku.
Mudah-mudahan.
Yang tak ingin terjadi adalah: Lanfang menemukan undangan Susan. Aku mesti
menyimpannya di tempat yang jauh dari jangkauan Lanfang. *** AKU akan datang sehari sebelum grand opening Galeri Bingkai, yang ternyata
letaknya tak jauh dari Galeri Rudana. Tempat yang sungguh rupawan dan sesuai
dengan selera Susan. Dia seorang pemilih yang baik. Dia pula yang memilihkan
hotel ketika aku bertugas ke Solo.
"Kamu harus menginap di Lor In," usulnya. Karena tempat itu memiliki
banyak taman yang khas gaya
Bali. Walaupun, ketika sudah melebur di kamar
tidur yang luas, nyaris tak berbeda dengan hotel lain. Ingatanku justru selalu
tersangkut pada rambut Susan yang berulang kali memenuhi wajahku. Biasanya
kesibukan yang membuat tubuh kami lembab itu akan berakhir dengan aroma terapi
di seluruh kamar mandi. Harum cendana memenuhi bath-tub.
"Cantik, akhir-akhir ini kamu begitu sibuk." Aku menelepon Lanfang
dari kantor. "Ya. Dalam seminggu ini aku harus sudah selesai memeriksa dan memberikan
persetujuan pada calon bukuku sebelum naik cetak. Kenapa?"
"Besok aku tugas ke luar pulau. Ke Lombok, tapi mungkin singgah di kantor
cabang Bali dulu. Aku belum sempat membereskan
kopor, bisa minta tolong?"
"Oke, tak masalah. Kok mendadak? Berapa hari?" "Baru kudapat surat
tugasnya tadi siang. Sekarang aku harus mengambil tiket sendiri ke agen.
Sekitar tiga-empat hari, tergantung bagaimana kondisi network di Lombok."
"Yo wis,
ojo bengi-bengi mulihe. Kamu perlu istirahat malam ini." Tentu tidak akan larut malam, karena sebenarnya tiket sudah kupegang. Tapi yang
penting aku tahu, Lanfang begitu sibuk membaca ulang naskahnya yang sudah
di-setting.
Rasanya tadi Lanfang mengingatkan agar aku cukup istirahat malam ini. Tetapi
yang dilakukan berbeda dengan sarannya. Ia menandai halaman buku yang sedang
dibaca, menyurutkan lampu kamar hingga temaram, lalu masuk ke bawah selimutku.
Cumbuannya selalu dimulai dari bibir. Mungkin untuk mengingatkanku bahwa ia
sesungguhnya tak hanya cerewet, tapi juga cekatan ketika pekerjaan larut
malamnya dilakukan tanpa kata-kata.
Sebelum tertidur, Lanfang membiarkan wajahku menyusup ke lehernya. Ke dekat
urat nadinya. Setidaknya ia tahu bahwa napasku terembus penuh cinta. Tetapi
besok, begitu tiba di Denpasar, kutelepon Lanfang seperlunya, selanjutnya aku
akan menggunakan nomor lain. Hanya Susan yang tahu nomor itu. Bagaimanapun,
berdusta itu mendebarkan! *** AKU memarkir mobil yang kupinjam dari kantor cabang di Bali.
Senja baru saja lenyap. Kudengar musik sayup gamelan Bali.
Rupanya Susan telah mengemas suasana menjadi begitu etnik. Kulihat dinding
teras galeri mungil itu dibuat dengan batu paras. Lantai batu alam membuat kesan
natural lebih mendalam. Cahaya lampu yang menyiram beranda langsung
memperlihatkan wajahku, sehingga Susan yang --seperti telah kuduga sebelumnya--
anggun dengan rambut terurai dan mengenakan kain corak Bali, menoleh ke arahku.
Senyumnya merekah. Aku melihat matanya berbinar.
"Oke, teman-teman, para undangan dan wartawan, kekasih yang kutunggu sudah
tiba. Kita akan mulai acaranya..." Aku agak kikuk, namun Susan meleburnya dengan pelukan yang begitu mesra. Ada
beberapa bule yang hadir di sana. Justru membuat Susan tidak merasa sungkan
mencium bibirku. Dan entah kenapa, para wartawan itu begitu gemar dengan
hal-hal yang berlangsung sebentar tetapi berdenyar. Mereka memotret. Sejenak
mataku silau.
Namun ketika pelukan Susan lepas dan aku mencoba mengitarkan pandangan, di
antara pengunjung kulihat seseorang yang sangat kukenal. Mataku masih
terpengaruh oleh kilat lampu blitz. Tapi tidak mungkin lupa wajah istriku.
Lanfang ada di sudut itu! Dengan sebuah kamera digital di tangannya. Wajahnya
tertegun. Atau terpesona? Tapi parasnya memucat. "Baiklah," ujar master of ceremony. "Kita akan mendengar awal
gagasan mengenai Galeri Bingkai. Silakan Susan bercerita untuk kita..."
Selanjutnya telingaku tidak menangkap kata-kata Susan, karena segera bergegas
mengejar Lanfang yang beringsut begitu cepat ke arah pintu keluar. Aku mengutuk
diriku yang mengganti nomor handphone. Pasti ia telah mencoba menghubungiku
sejak kemarin. Apakah aku juga harus mengutuk majalah yang memintanya meliput
acara ini? Bukankah dia sedang sibuk dikejar batas waktu oleh penerbit bukunya?
"Lanfang!" aku memanggil. Di luar sunyi, tapi tidak dengan degup jantungku yang gemuruh.
"Nama Bingkai kupilih karena...." Suara Susan semakin sayup. Sementara
di taman yang separuh gelap itu, aku mencari degup jantung Lanfang.