
Yayasan Kartika Jaya
Dharma Pertiwi PD-K
Login
| Akankah Ayah Kembali |
|
|
|
|
Ya.. aku adalah salah satu penyiar swasta di kotaku dan dalam cutiku aku ingin mengunjungi orang tuaku, yang saat itu baru pindah tugas di salah satu Kabupaten paling ujung di kotaku. Akhirnya ... tiket telah ku dapat dan saatnya aku mencari tempat duduk di ruang tunggu, sambil menunggu kereta yang akan aku tumpangi. Tiba-tiba mataku tertuju pada sosok wanita muda yang kira-kira seusiaku, dari jarak tidak jauh, wanita muda itu melambaikan tangannya ke arahku sambil berjalan mendekatiku.."hei... Ling..Iingkan" katanya bertanya padaku. Aku tahu itu adalah panggilan teman-temanku padaku, sebab mereka melihat raut wajah dan garis keturunanku karena ada darah cinanya" iya.." jawabku."apa kabar........ ? masih ingat aku nggak , terus sekarang tinggal di mana, kegiatanya apa". Wanita itu memberikan pertanyaan bertubi-tubi " aduh ... maaf siapa ya..aku lupa, terus aku harus menjawab yang mana dulu nih, pertanyaanya banyak banget"kataku" ya ampuunn, bener nih udah lupa, aku Sri teman SD dulu, kita kan pernah teman dekat, inget enggak kita kan alumni SD 249 is kan", wanita itu memberiikan penjelasan kepadaku, sementara aku mengingat dengan kening berkerut, memaksakan untuk mengingat." Ooo..iya Sri, Sri kiting kan, ha..ha..." aku sambil tertawa puas karena dapat mengingat teman lamaku." Ling .. emang mau kemana " kembali Sri bertanya padaku" aku balik bertanya" enggak..aku lagi mengantar tunanganku..." jawabnya" oh iya"aku kaget"iya ... tunanganku pindah tugas Ling.." katanya "emang tugas apaan" aku kembali bertanya" tunanganku seorang prajurit Infantri ... dan dia harus pindah tugas di tempat dinasnya yang baru, yang sebenarnya berat sih, tapi gimana lagi sudah resiko Ling... harus dijalani " Sri menjelaskan padaku dengan mimik sedikit sedih " tadinya dimana Sri...?" kataku." Tadinya di yonif 145 Serong ( RAIDER 200 sekarang ) pindah ke yonif 142 Muara Enim." lya sabar " aku sambil memegang tangannya. " eh... Ling tuh orangnya datang, aku kenalin ya, ada temantemannya juga loh, yah... siapa tahu ada yang..."mulut Sri langsung ku tutup dengan tanganku, dan Sri pun melambaikan tangan memberiikan kode sama tunangannya agar mendekati kami. Dan benar, tunangannya menghampiri kami dengan beberapa temannya dan aku melihat diantara baret hijau ada satu yang lain baretnya biru, poster tubuhnya pun jauh lebih gagah, lebih tinggi dan semuanya serba lebih dari yang lain, ternyata dia yang memakai Baret Biru adalah salah satu diantara teman-teman tunangannya Sri yang saat itu sedang cuti tahunan. " mas ... kenalin teman lama saya" Sri memperkenalkan aku dengan tunangan dan temantemannya, selayaknya orang berkenalan aku pun mengulurkan tangan, mereka begitu gagah dan beribawa. Dari perkenalan itu akhirnya aku tahu, yang memakai Baret Biru dengan lambang :silang pistol itu ternyata namanya Andi berawal dari perkenalan itu akhirnya berlanjutan, kami pun sating komunikasi walau jarak jauh, Andi adalah salah satu anggota POM yang bertugas di lbukota dan saat itu sama seperti aku sedang cuti tahunan, ternyata tujuan kami sama, tinggal orang tuanya hanya berjarak 2 kilometer dari tempat tinggal orang tuaku sekarang. Dua tahun hubungan kami terjalin
akhirnya Andi memberanikan diri untuk melamarku,
awalnya orang tuaku belum berani memberikan restu mengingat usia kami
yang dapat dikatakan masih muda. Dan orang tuaku pun selalu memberikan gambaran padaku bahwa tidak mudah untuk menjadi
seorang istri prajurit. Banyak hat
yang harus dipersiapkan, mengingat aku adalah seorang anak masih dikategorikan maja oleh orang tuaku." Di
antara apa yang harus dipersiapkan ." kataku bertanya pada orang tuaku." Iman dan mental" jawab orang
tuaku, sebab jangan hanya melihat
prajurit itu gagah, jangan melihat seorang prajurit itu keren, tapi coba
bertanya pada diri sendiri, jika nanti menjadi istri prajurit, sudah siapkah mengunjung harkat dan martabat, nama baik suami dan
kesatuannya, sudah siapkah suatu saat ditinggal suami kedaerah operasi,
dengan batas waktu yang tak tentu dan dengan berbagai macam resiko termasuk hat
yang terburuk yang akan dihadapi, sudah siapkah dengan yang berpindah-pindah
dan dengan ekonomi yang pas-pasan dan seterusnya begitu banyak gambaran untuk
kedepan untuk menjadi seorang istri prajurit. Kemudian mamaku berkata"
baju persit itu sekedar pajangan disalam
ayah" aku membalas salamnya sambil mencium tangannya" tumben ayah pulang sore, aku bertanya sambil melangkah kedalam
rumah. Suamiku duduk sambil menarik nafas panjang, dan aku mencoba
membantu melepaskan sepatu dinasnya." lya pulang sebentar tapi nanti
kumpul lagi di kantor karena ada kegiatan " iya menjelaskan padaku sambil melangkah menuju meja tempat biasa aku menyiapakan
makanan." Masak apa ibu hari ini" ia membuka tudung saji sambil tersenyum." lya itu", aku juga ikut
tersenyum karena di meja itu hanya ada tempe goreng dan sayur tauge,
kami pun akhirnya makan bersama sungguh terasa nikmat hari itu karena aku bisa
makan bersama suamiku yang selama ini jarang sekali aku rasakan, maklumlah terkadang kegiatan suamiku menyita banyak waktu dan mempunyai
tanggung jawab yang besar, tapi itu tidak mengurangi rasa sayang dan
kebanggaanku menjadi seorang istri prajurit.
Akhinya tiba juga waktu yang kami tunggu, jerit tangis
sang bayi di ruang persalinan rumah
sakit Angkatan Darat memecahkan keheningan malam. Tapi malam itu
suamiku tidak dapat menemani ketika bayiku lahir, aku hanya dapat memberikan kabar lewat SMS, karena suamiku sedang
tugas di daerah operasi. Sedih, senang bercampur haru pada malam itu,
anakku lahir tetapi bukan ayahnya yang mengazaani di telinganya seperti
layaknya anak-anak orang lain yang pada
saat itu ku lihat di azani oleh ayahnya, tapi tidak untuk anakku." Dok..."aku memanggil dokter piket yang
kebetulan ada di ruangan itu " iya...."
, ada yang bisa dibantu bu." Dokter menanggapi panggilanku." Saya
mints tolong Dok, tolong azanni di telinga anakku, ayahnya
sedang tidak ada di tempat." Aku mencoba memberianikan
diri untuk meminta pertolongan Dokter piket tadi, dan permintaanku di kabulkan.
Satu tahun kemudian, anaku yang gagah sudah lincah berlari dan
ada kabar yang membuat aku senang, suamiku
akan segera kembali kumpul bersama kami. Aku senang dan bahagia kabar itu
segera ku sampaikan kepada anakku, anakku pun tertawa sambil meloncat
kegirangan dan berkata" horeee ayah akan pulang." Kemudian anakku
berlari keluar rumah memberii tahu kepada teman-temannya." Ayahku akan pulang, nanti aku mau dibawain mainan
yang banyak sama ayahku, ayah kamu pulang gak .... ?" Anakku
bertanya pada temannya, yang pada saat itu ayahnya sama seperti ayah anakku
sedang tugas di daerah operasi.
Sehari sebelum waktu kepulangan
rombongan suamiku, perasaanku tidak enak tapi aku coba untuk membuang perasaan
itu jauh-jauh. Namun, ketika aku melintas
di depan kantor di mana suamiku bertugas, aku melihat ada bendera setengah
tiang berkibar di halaman kantor tempat suamiku bertugas. Aku tahu bila bendera
setengah tiang dikibarkan berarti ada anggota yang gugur di daerah konflik. Tapi aku yakin itu bukan suamiku. Suamiku pasti
kembali berkumpul bersama aku dan
anakku. Beberapa jam kemudian ketika aku tiba dirumah, aku dikejutkan dengan
kedatangan dua orang anggota utusan dari tempat suamiku bertugas. " Tok..tok..tok, Assalamualaikum : aku mendengar ada
ketukan dari pintu dan segera ku buka
pintu, tadi nya aku kira yang datang adalah istri teman suamiku, namun ternyata
setelah pintu aku buka sambil menjawab salam adalah anggota dimana tempat
suamiku bertugas. " ada apa ya pak?" aku bertanya sambil sedikit
bingung dengan tidak biasanya aku kedatangan tamu dari kantor, yang kulihat
wajah mereka seperti memberikan jawaban yang tidak aku harapkan. " maaf
... ibu istri dari bapak Andi ?" mereka bertanya padaku. " iya pak
benar, ada apa ya?" aku kembali bertanya. " maaf bu, suami ibu
kecelakaan dalam kontak senjata, mengakibatkan suami ibu meninggal dunia."
Aku serasa disambar petir ketika mendengar kabar itu, kakiku pun terasa tidak mampu
menopang tubuhku. Pelan - pelan pandanganku
terasa gelap dan aku pun tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya pada
diriku. Karena ketika aku sadari aku sudah berbaring di tempat tidur dengan
ditemani beberapa tetanggaku. Ya tuhan... harus dengan bahasa apa aku sampaikan
kabar ini kepada anakku, aku tidak tega melihat keceriaannya berganti duka. Selama ini anakku begitu mendambakan bisa digendong
sama ayahnya dan bisa melihat wajah ayahnya secara langsung. Sebab selama ini anakku hanya melihat wajah ayahnya dari
foto yang ada di dinding kamarnya. Begitu pun sebaliknya suamiku belum pernah
melihat wajah buah hatinya secara
langsung apa lagi menyentuh wajahnya sampai dia menutup mata. Aku tidak tahu harus berbuat apa, seakan dunia ini
akan kiamat. Namun semua ini tidak dapat ku sesali, aku hanya dapat
mengikhlaskan suamiku dan berdoa semoga suamiku tenang disisi yang Maha Kuasa.
" ibu kenapa, ibu sakit." Anakku bertanya kepadaku ketika ia masuk kekamarku dan melihat aku sedang berbaring lemah. " enggak... ibu hanya kecapean, lagi tidak enak badan. " terpaksa aku berbohong kepada anakku, aku belum siap untuk memberitahukan yang sebenarnya kepada anakku. " bu.. lihat gagah enggak aku memakai baju loreng ini, besok baju loreng ini akan kupakai ketika ayah pulang, aku mau segagah ayah." Anakku mencoba memberi tahu aku sambil mengenakan baju kaos loreng anak-anak yang baru aku beli untukknya." lya" jawabku, adek gagah segagah ayah, adek juga tampan setampan ayah, sambil menahan air mata aku mencium kening anakku." Ya udah berarti adek nanti kalau sudah gede mau seperti ayah. Sambil berlalu is berkata " adek main dulu ya bu. iya" jawabku. Keesokan harinya tiba waktu yang ditunggu oleh semua istri yang merasa suaminya pergi ke daerah operasi karena itu adalah hari kepulangan suami-suami mereka. Kemarin aku merasakan hal yang seperti itu, ada kebahagiaan, kebanggan dan berjuta harapan karena aku ingin merasakan kehidupan yang sempurna dalam perkawinan kami setelah kehadiran anak kami. Tapi ternyata, Allah berkehendak lain kini kebahagiaan itu berganti duka hari yang ku tunggu tidak secerah hatiku. Aku tidak sanggup melihat wajah anakku yang begitu antusias menanti kepulangan ayahnya. Saat itu yang terbayang dibenakku mereka-mereka dengan gembira menyambut kedatangan suaminya sambil mengendong anak mereka, sdangkan aku bersedih menyambut kedatangan jasad suamiku. Ketika dari kejauhan aku dengar suara sirine ambulan aku tetap berharap itu bukan jasad suamiku. Aku menanamkan keyakinan suamiku akan pulang dengan selamat, aku coba menghibur diriku namun aku tetap berdoa dalam hatiku. Tuhan... jangan ambil suamiku, biarkan anakku merasakan kasih sayang ayahnya dulu setelah itu ku pasrahkan kepadamu tuhanku. Ternyata aku hanya bisa berharap. Ambulan itu tetap berhenti di depan rumahku dan bertepatan itu juga anakku berlari keluar rumah menghampiri mobil ambulan itu. " horeeee ayah pulang, ayah pulang.. bu.. ayah pulang, ayah pasti bawa mainan buat adek." la berteriak sekencang - kencangnya memanggilku dengan tujuan memberi tahu aku bahwa ayahnya sudah datang. Dikeluarkan dari mobil ambulan dengan ditutupi bendera merah putih. " bu.. kok ada peti, memang siapa yang di dalam peti" Tanya anakku pada ku, namun aku tidak sanggup menjawabnya aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya. " itu pahlawan" kata atasan suamiku. " terus ayahku yang mana, aku mau bertemu dengan ayahku." Anakku memaksa meminta jawaban dari atasan suamiku sambil menarik - narik pergelangan tangannya. Spontan seketika itu juga suasana menjadi haru, semua yang datang hanya tertunduk diam dan meneteskan air mata. " itu ayah adek, ayah adek adalah pahlawan." Atasan suamiku menjelaskan ke anakku dengan nada bicara yang sangat hati-hati. Selang beberapa saat setelah jenazah disemayamkan dan akan diberangkatkan dipemakaman, dengan prosesi upacara kemiliteran dan diiringi tembakan salfo jasad suamiku secara perlahan meninggalkan kami dengan tetapi aku bangga padamu, ayah " ayah... walaupun aku tidak pernah bertemu denganmu tetapi aku bangga padamu, ayah adalah pahlawan bagiku dan negaraku." Anakku menutup doanya sambil berkata selamat jalan yah ku iringi langkah ayah dengan doa " aku menitikkan air mata di saat aku sadar ternyata kepulangan suamiku hanya yang kulihat jasad suamiku " selamat jalan pahlawanku sampai nafas terlepas dari raga kami akan bangga padamu." Aku dan anakku melangkah pulang ke rumah dengan harapan hari esok yang lebih gemilang. Kesedihan tidak menyurutkan aku untuk dapat membuat anakku akan menjadi sosok anak yang akan menjadi kebanggaanku amin... ? Cerpen karya Anggota Persit KCK Ranting 5 POM Cab. III PD Jaya A.n Ny. Linda Rusmala Dewi Istri dari Kopda Hernando |
Sedang Online
Kami memiliki 8 Tamu onlineData Pengunjung







![]() | Hari ini | 99 |
![]() | Kemarin | 514 |
![]() | Minggu ini | 99 |
![]() | Bulan ini | 10005 |
![]() | Total | 286671 |












