Bahagia
adalah suatu keadaan dimana rohani(jiwa) terbebas dari penderitaan , dimana
jiwa dalam keadaan tentram dan damai (santhi). Dalam agama Hindu terciptanya
kebahagiaan lahir dan bathin.
Kebahagiaan lahir inilah yang disebut jagadhita yaitu kesejahtraan
terpenuhinya segala kebutuhan lahiriah yang berupa sandang, pangan dan papan.
Sedangkan kebahagiaan bathin termasuk di dalam Moksa yang bersifat kerohanian
dan kejiwaan. Suatu keluarga sejahtra kalau terpenuhinya segala keperluan hidup
sehari-hari dalam bentuk materi. Namun keluarga yang sejahtera ini belum
tentu menikmati kebahagiaan ada
kalanya suatu keluarga yanmg sangat minim terpenuhinya keperluan materinya,
tetapi menikmati kebahagiaan. Karena itulah, kesejahtraan dan kebahagiaan ini
haruslah seimbang. Keseimbangan yang harmonis ini dapat menjadikan keluarga itu
mantap, tentram,damai : ini berarti kebahagiaan lahir batin yang merupakan
tujuan utama perkawinan itu benar-benar dapat di capai.
Demi terwujudnya
dan terpeliharanya rumah tangga yang bahagia, kiranya perlulah kita menyadari
dan mengetahui tentang unsur dan kreteria
rumah tangga yang menjadi tolak ukur keberbasilan didalam mewujudkan
rumah tangga yang bahagia.
Unsur
rumah tangga bahagia :
1) Kecintaan. Cinta adalah dorongan yang sangat kuat sekali
yang timbul dari dasar hati yang paling dalam untuk membahagiakan obyek itu
sendiri, degan tidak melihat kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri obyek
tersebut, dan mau menerimanya dalam keadaan yang bagaimanapun juga.
2). Kegembiraan tidak
menanggung papa dan dosa. Kegembiraan merupakan suatu harapan dalam rumah
tangga. Tetapi dalam mengarungi bahtera rumah tangga badaipun akan bisa
menerpanya sehingga akan terjadi suatu percekcokan dari kecil sampai besar
malah mengarah kepada perpecahan rumah tangga .
Agar rumah tangga selalu ada dalam suasana gembira, suami istri harus
tahu kunci kegembiraan tersebut. Ada dua kunci kegembiraan
dengan mengetahui kelemahan masing-masing baik istri maupun suami. Suami
kelemahannya adalah di mata, sehingga tatkala dia tidak gembira maka
sebagai istri yang bijak harus cepat berhiyas denga penampilan yang memikat
sehingga panas hatinya akan cepat luluh.
3). Kepuasan. Pernyataan
rasa syukur terhadap semua anugrah Tuhan Hyang Maha Esa harus diwujudkan dengan prilaku sehari-hari agar dapat mencapai
kesempurnaan hidup dan kepuasan bathin. Dengan membangun rasa syukur terhadap
hasil yang telah dicapai maka akan dapat
memberikan kepuasan " Bila dalam rumah tangga tidak dilandasi oleh
Dharma maka rumah tangga akan diselimuti oleh napsu indria yang akan
mengantarkan rumah tangga tersebut dalam jurang kehancuran. Dalam rumah tangga
ada tiga (3 ) hal yang harus disyukuri sebagai mana termuat dalam kitab
Canakya Nitisastra VII. 4 sbb :
Santosa
trisu kartavyah
Swadare
bhojane dhane artinya :
Bersyukurlah dengan tiga hal yaitu
: dengan istri sendiri, makanan yang ada dan rejeki yang diperoleh.
Manusia dalam
hidup ini selalu mengembangkan keinginannya dan tidak ada manusia yang tidak
punya keinginan. Ada ingin untuk makan minum yang enak -enak,
ingin kaya raya , ada yang hanya ingin nafsu sex, ada juga yang ingin selalu
dekat dengan Tuhan, dll. Nafsu haus dan
lapar, nafsu sex, nafsu untuk kaya tidak mungkin dipenuhi secara maksimal.
Karena nafsu ibarat api semakin di siram minyak ia semakin besar . Oleh karena
itu nafsu harus dikendalikan karena kalau tidak, akan dapat menimbulkan
bencana.
a) Bersyukur
terhadap harta yang diperoleh sesuai dharma yang akan mampu membangun keluarga bahagia.
b) Bersyukur
terhadap makanan yang telah disiapkan dalam rumah tangga . Makanan yang dimasak
dengan tujuan menghidupi anggota keluarga
akan memberikan nilai spiritual yang sangat tinggi karena sebelum di hidangkan diawali dengan yajna sesa sehingga yang memakannya akan terlepas dari papa
dosa. Sehingga seorang anggota keluarga
pantang untuk menghina masakan yang dihidangkan
dalam rumah tangga . Kalau makanan siap saji yang dibeli di pasar cara masak dan tujuan membuatnya berbeda
dengan masakan dalam rumah tangga karena
tujuannya untuk bisnis.
c) Bersyukur
dengan istri sendiri. Rasa syukur disini jangan membuahkan kepuasan bathin yang
akan menghindari terjadinya
perselingkuhan . Karena perselingkuhan
merupakan pengkhianatan terhadap tujuan perkawinan . Istri sering
diibaratkan sebagai sungai yang hatinya selalu berliku-liku perlu mendapatkan
perhatian yang khusus bagi seorang suami sehingga hatinya bisa tetap lurus
dengan komitmen yang telah diikrarkan pada waktu perkawinan.
4) Kedamaian. Unsur kedamaian berarti tidak adanya perasaan yang mengancam
dalam hidupnya. Hidup dijaman kali yuga, ibarat ikan hidup di air yang keruh
dimana pandangan terhalang oleh keruhnya air. Oleh karena itu banyak yang salah
lihat sehingga temannya yang hitam bisa
dilihat kuning sehingga kehidupan temannya yang bopeng bisa dilihat tampan.
Pandangan manusia dihalangi oleh gelapnya adharma yang sangat kuat
pengaruhnya dalam hidup pada jaman kali.
Manawa Dharmasastra menyatakan dharma pada jaman kali hanya berkaki satu sedang
adharma berkaki tiga. Kekuatan adharma
itulah yang menjadi penghalang sehingga orang sering keliru melihat
kebenaran. Banyak yang benar dipandang sebagai ketidak benaran , demikian juga
sebaliknya. Terhalangnya hati nurani menyebabkan munculnya kekuasaan Panca
klesa yaitu : kegelapan, egois, hawa nafsu, kebencian, takut akan
kematian. Akibatnya banyak manusia
saling bermusuhan dan terkadang musuh sering
kelihatannya seperti teman.
Dalam Canakya Nitisastra IV. 10
menyebutkan ada tiga hal yang menyejukkan hati yang menjadi andalan
untuk membangun kedamaian dan kesejukan hati.
Samsara
tapa dagdhanam
Trayo sisranti hetavah
Apatyah
ca kalatran ca
Satam
sanggatir ewa ca artinya:
Dalam menghadapi kedukaan dan
panasnya kehidupan duniawi ada tiga hal
yang menyebabkan hati orang menjadi damai
yaitu anak, isrti dan pergaulan dengan orang suci..
Anak adalah
merupakan curahan kasih sayang, lebih-lebih anak yang patuh dan berbakti kepada orang tua. Meskipun marah
orang tuanya kepada anaknya sebenarnya bukanlah karena kebencian tetapi
keinginan orang tua menjadikan anaknya yang sukses. Norana sih manglwehane atanaya yang artinya tidak ada cinta kasih
yang melebihi kasih orang tua kepada anaknya. Carilah kedamaian hati dalam dinamika
kehidupan bersama anak dan istri/suami . Dinamika inilah yang akan
mewujudkan kedamaian rumah tangga.
5). Ketentraman. Ketentraman
dalam keluarga akan didapat apabila anggota keluarga memiliki kesehatan sosial.
Kemampuan untuk melakukan hubungan sosial dengan tetangga kiri kanan belakang
dan depan merupakan suatu kebutuhan setiap keluarga. Semuanya ini didasarkan
oleh ajaran Dharma dengan berpegang pada pikiran, perkataan dan laksana yang
baik maka akan dapat melakukan kerja sama dengan baik. Hubungan sosial yang baik akan mempengaruhi
perasaan setiap pribadi akan mendapat perlindungan kalau ada sesuatu yang akan
mencelakakan rumah tangganya . Hubungan kerja sama dalam ajaran agama hindu
mutlak ada dalam rumah tangga sehingga sesama akan merasakan saling menjaga dan
melindungi. Dalam kitab Niti Sastra dilukiskan bagi orang yang mau kerja sama
seperti singa dan hutan. Keduanya
memiliki kehidupan yang berbeda tetapi mampu bekerja sama. Singa menjaga hutan,
akan tetapi ia selalu dijaga oleh hutan. Jika singa dengan hutan berselisih,
mereka marah, lalu singa akan meninggalkan hutan. Maka hutan akan dirusak dan
dibinasakan oleh orang, pohon-pohon ditebangi , maka singa akan lari sembuyi
didalam jurang ditengah ladang, yang akhirnya diserbu dan binasakan orang.
Bertolak dari
seloka ini maka setiap rumah tangga harus sehat sosial yang ditandai dengan
kemauan bekerja sama yang dilandasi oleh ajaran Tat Twam Asi sehingga kalau ada kesalahan ucapan dan
perbuatan maka saling memaafkan, sehingga rasa permusuhan tidak ada dalam
hati. Disamping itu juga ketaatan
terhadap norma hukum sehingga bhatin terasa tentram akan muncul sendirinya karena ada rasa saling melindungi
.
Kreteria Rumah Tangga Bahagia dalam buku Petunjuk Teknis Pembinaan Keluarga
Sukhinah bagi umat Hindu yang dikeluarkan oleh Departemen Agama Hindu RI, yang
dapat dikembangkan lebih lanjut sesuai kondisi masing-masing :
1) Keluarga Sukhinah I yaitu keluarga-keluarga yang dibangun
perkawinan yang syah dan telah memenuhi kebutuhan spiritual dan material secara
minimal tetapi masih belum dapat memenuhi kebutuhan akan pendidikan , bimbingan
keagamaan dalam keluarganya , mengikuti interaksi sosial keagamaan lingkungannya.
2) Keluarga Sukhinah II yaitu : Keluarga-keluarga yang dibangun
atas perkawinan yang syah, disamping telah dapat memenuhi kebutuhan
kehidupannya juga telah mampu memahami pentingnya pelaksanaan ajaran agama
serta bimbingan keagamaan dalam keluarga serta mampu mengadakan interaksi
sosial keagamaan dengan lingkungannya, tetapi belum mampu menghayati serta
mengembangkan nilai-nilai sradha dan
bhakti, berdana punia, menabung dan sebagainya.
3) Keluarga Sukhinah III yaitu: keluarga-keluarga yang dapat
memenuhi seluruh kebutuhan lahir bathin tetapi belum mampu manjadi suri tauladan
bagi lingkungannya.
4) Keluarga Sukhinah III Plus yaitu keluarga-keluarga yang telah
dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologis, dan pengembangannya serta dapat menjadi suri tauladan bagi
lingkungannya.